Kas PDAM Anjlok

Dalam laporan audit tersebut mengungkapkan posisi kas perusahaan yang semula kokoh di angka Rp. 15,19 miliar pada akhir 2024, kini menyusut drastis dan hanya menyisakan Rp. 4,04 miliar pada penutupan buku per 31 Desember 2025. Penurunan bernilai total Rp. 11,15 miliar ini menjadi indikasi kuat adanya strategi pengelolaan likuiditas yang sangat agresif di tingkat manajerial.

Menariknya, analisis terhadap aliran dana menunjukkan adanya konsentrasi penarikan dana ekstrem pada satu rekening bank tunggal. Rekening Giro salah satu Bank dengan nomor 008xxxxxxx mencatat penurunan saldo yang mencolok, dari semula Rp. 10,01 miliar (2024) menjadi hanya tinggal Rp. 92,87 juta pada akhir 2025. Artinya, sekitar 89 persen dari total amblesnya kas perusahaan bersumber dari rekening tunggal tersebut.

Meskipun Perumda Tirta Buana secara formal mengantongi opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Kantor Akuntan Publik (KAP) inisial MNK & Partners pada Maret 2026, namun opini akuntansi tersebut bukanlah jaminan efisiensi manajerial. Ketiadaan narasi eksplisit dalam Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK) yang menjelaskan penyebab pergeseran rekening raksasa ini memicu tanda tanya besar terkait asas keterbukaan informasi publik pada pengelolaan keuangan daerah yang dipisahkan.*Yans212

By Yans212

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *